Menyimak pemberitaan yang dilakukan di media massa mengenai bantuan langsung tunai, timbul sebuah pertanyaan bahwa apakah media massa benar-benar telah memahami secara benar bagaimana kronologis bantuan tunai langsung itu sendiri dari data rumah tangga miskin, siapa rumah tangga miskin yang dimaksud, data rumah tangga miskin yang mana yang dimaksud, bagaimana data yang benar secara statistik, sehingga media massa sebagai media informasi kepada masyarakat tidak sembarang menyorot suatu kasus, menjadi sebuah informasi yang terekam di masyarakat, bahwa hal itu sebuah kebenaran yang sebenarnya.
Dari narasi diatas dan pemberitaan yang kita perhatikan di media massa, dapat dsimpulkan bahwa media massa tidak memahami secara baik program pemerintah “bantuan langsung tunai” media massa hanya menyoroti secara kasus per kasus, misalnya berita mengenai “bantuan langsung tunai tidak tepat sasaran” hal ini sangat menyesatkan bagi masyarakat awam, bahkan masyarakat intelektual sekali pun tanpa memiliki dasar-dasar statistika, akan menerima berita ini secara mentah-mentah, sehingga timbul opini dimasyarakat bahwa bantuan langsung tunai memang tidak tepat sasaran, tapi jika kita kaji secara imiah dengan memperhatikan bahwa data yang dipakai adalah data Badan Pusat Statistik (BPS) dimana melakukan pendataan dengan didasari metodologi tertentu yang sudah tentu merupakan hasil kajian para ahli dan secara statistik dapat dipertanggungjawabkan, dimana perlu diingat dalam statistika dikenal adanya error (baik sampling error maupun human error yang walaupun tidak dapat dihindari dan tidak menutup kemungkinan untuk di tekan seminimal mungkin, dimana pada taraf tertentu data yang dihasilkan akan masih dianggap valid). Hal ini tidak begitu dipahami oleh media massa dalam menerjemahkan bantuan langsung tunai di masyarakat, bahkan mencetak pemikiran dimasyarakat bahwa data yang dipakai sebagai dasar penyaluran bantuan langsung tunai tidak tepat sasaran.
Data dasar bantuan langsung tunai 2008 adalah hasil pendataan tahun 2005 (karena pemerintah tidak ada kesempatan untuk BPS melakukan pendataan tahun 2008, karena BBM harus segera dinaikan harganya, dimana pendataan memerlukan waktu yang cukup lama karena mencakup seluruh wilayah RI). Referensi tahun data yang cukup jauh juga memberikan kemungkinan terjadinya ketidak sesuaian dilapangan, hal ini dapat dimaklumi karena banyak faktor yang mempengaruhi, karena adanya berbagai perubahan pada rumah tangga bersangkutan, misalnya rumah tangga yang dulunya miskin tahun 2008 sudah tidak miskin lagi, demikian juga sebaliknya.
Semoga media massa lebih cermat dalam menyoroti bantuan tunai langsung ini, sehingga tidak memperburuk keadaan dan tidak mencetak pemahaman yang keliru dimasyarakat
Ditulis oleh igov 